Laman

Jumat, 15 April 2011

Kesenian dan kebudayaan kendal



Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kendal

Pendahuluan
Nama Kendal diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Kendal. Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 - 1546 M yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521 M, Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka kepada Pakuwojo.
Peristiwa yang menimbulkan pertentangan dan mengakibatkan pertentangan dan mengakibatkan kematian itu tercatat dalam Prasasti. Bahkan hingga sekarang makam kedua tokoh dalam sejarah Kendal yang berada di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu itu masih dikeramatkan masyarakat secara luas. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang nampak "sari" itu, Beliau menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut "Kendalsari". Pohon besar yang oleh warga masyarakat disebut-sebut berada di pinggir Jln Pemuda Kendal itu juga dikenal dengan nama Kendal Growong karena batangnya berlubang atau growong.
Dari kisah tersebut diketahui bahwa nama Kendal dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah atau daerah setelah Sunan Katong menyebutnya. Kisah penyebutan nama itu didukung oleh berita-berita perjalanan Orang-orang Portugis yang oleh Tom Peres dikatakan bahwa pada abad ke 15 di Pantai Utara Jawa terdapat Pelabuhan terkenal yaitu Semarang, Tegal dan Kendal. Bahkan oleh Dr. H.J. Graaf dikatakan bahwa pada abad 15 dan 16 sejarah Pesisir Tanah Jawa itu memiliki yang arti sangat penting.


Pembahasan
Sejarah berdirinya Kabupaten Kendal
Adalah seorang pemuda bernama Joko Bahu putra dari Ki Ageng Cempaluk yang bertempat tinggal di Daerah Kesesi Kabupaten Pekalongan. Joko Bahu dikenal sebagai seorang yang mencintai sesama dan pekerja keras hingga Joko Bahu pun berhasil memajukan daerahnya. Atas keberhasilan itulah akhirnya Sultan Agung Hanyokrokusumo mengangkatnya menjadi Bupati Kendal bergelar Tumenggung Bahurekso. Selain itu Tumenggung Bahurekso juga diangkat sebagai Panglima Perang Mataram pada tanggal 26 Agustus 1628 untuk memimpin puluhan ribu prajurit menyerbu VOC di Batavia. Pada pertempuran tanggal 21 Oktober 1628 di Batavia Tumenggung Bahurekso beserta ke dua putranya gugur sebagai Kusuma Bangsa. Dari perjalanan Sang Tumenggung Bahurekso memimpin penyerangan VOC di Batavia pada tanggal 26 Agustus 1628 itulah kemudian dijadikan patokan sejarah lahirnya Kabupaten Kendal.
Perkembangan lebih lanjut dengan momentum gugurnya Tumenggung Bahurekso sebagi penentuan Hari jadi dinilai beberapa kalangan kurang tepat. Karena momentum tersebut merupakan sejarah kelam bagi seorang tokoh yang bernama Bahurekso. Sehingga bila tanggal tersebut diambil sebagai momentum hari jadi dikhawatirkan akan membawa efek psikologis. Munculnya istilah "gagal dan gugur" dalam mitologi Jawa dikawatirkan akan membentuk bias-bias kejiwaan yang berpengaruh pada perilaku pola rasa, cipta dan karsa warga Kabupaten Kendal, sehingga dirasa kurang tepat jika dijadikan sebagai pertanda awal mula munculnya Kabupaten Kendal.
Dari Hasil Seminar yang diadakan tanggal 15 Agustus 2006, dengan mengundang para pakar dan pelaku sejarah, seperti Prof. Dr. Djuliati Suroyo ( guru besar Fakultas sastra Undip Semarang ), Dr. Wasino, M.Hum ( dosen Pasca Sarjana Unnes ) H. Moenadi ( Tokoh Masyarakat Kendal dengan moderator Dr. Singgih Tri Sulistiyono. serta setelah diadakan penelitian dan pengkajian secara komprehensip menyepakati dan menyimpulkan bahwa momentum pengangkatan Bahurekso sebagai Bupati Kendal, dijadikan titik tolak diterapkannya hari jadi. Pengangkatan bertepatan pada 12 Rabiul Awal 1014 H atau 28 Juli 1605. Tangal tersebut persis hari Kamis Legi malam jumat pahing tahun 1527 Caka. Penentuan Hari Jadi ini selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan Daerah ( PERDA ) Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2006, tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Kendal ( Lembaran Daerah no 20 Tahun 2006 Seri E nomor 15 )

Budaya dan Adat Kendal
Kabupaten Kendal kaya dengan kegiatan budya baik yang bersifat tradisional maupun agamis seperti Syawalan Kaliwungu (event ini sudah terkenal hampir diseluruh Pulau Jawa), Sedekah Laut Tanggul Malang, Pesta Laut Tawang dan Pantai Bandengan. Disamping itu terdapat beberapa makam dari tokoh-tokoh adat maupaun penyebar Agama Islam diantaranya adalah Makam Pangeran Djuminah, Kyai Asyari, Sunan Katong, Paku Wojo yang terletak di Kecamatan Kaliwungu, Makam Pangeran Benowo di Kecamatan Pegandon dan Makam Kyai Seapu di Kecamatan Boja. Di cepiring juga ada pasar cepiring dan berbagai macam padagang di antara toko sepeda BMS yang dari dulu sudah ada di sana.


Syawalan
Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Kaliwungu Kendal. Masyarakat Kaliwungu merupakan satu contoh kecil, masyarakat yang kental dengan nuansa kehidupan keagamaannya. Kaliwungu di kenal dengan nama kota santrinya. Hal ini dapat dipertegas dengan banyaknya pondok-pondok pesantren atau madrasah-madrasah yang eksis dan selalu berkembang dari tahun ke tahun. Hingga grup band ternama seperti GIGI pun menyanyikan lagu "KOTA SANTRI" yang tidak lain untuk menegaskan Kaliwungu sebagai kota santri. Pernyataan lirik ini bukanlah basa-basi untuk menyebut kota selain Kaliwungu, karena pengarang lagu ini adalah orang asli dari Kaliwungu yang ingin mengungkapkan perasaan dan memvisualkan bentuk kehidupan agamis di kota asalnya tersebut.
Syawalan di Kaliwungu merupakan bentuk kegiatan rutin yang dilakukan masyarakat setempat setiap tahunnya. Kegiatan ini tidak perlu adanya komando dari seorang pejabat atau tokoh masyarakat, tetapi atas dasar tradisi dan kebiasaan yang telah dilakukan dari tahun ke tahun dan telah berlangsung sangat lama sekali. Tidak ada catatan sejarah yang pasti kapan dimulainya tradisi syawalan ini. Tradisi syawalan yang pasti dilakukan semenjak Islam masuk di daerah ini. Hal ini sangat erat kaitannya dengan segala bentuk kegiatan yang sarat dengan nuansa keislaman. Misalnya adanya acara utama berupa ziarah kubur dengan menggunakan doa-doa islam, figur tokoh yang dikunjungi juga tokoh-tokoh penyebar agama islam. Sedangkan makam tokoh yang bertentangan dengannya (seperti Paku Wojo) lengang dan sepi tanpa peziarah.
Kegiatan utama syawalan adalah berziarah ke tempat makam "SUNAN KATONG" dan dilanjutkan berziarah ke makam Kyai Guru (Kyai Asy'ari). Sunan Katong merupakan tokoh utama penyebar agama islam di Kendal termasuk di dalamnya Kaliwungu dan kota-kota disekitarnya. Penyebar agama islam yang lain di kota ini diantaranya adalah Wali Joko, Wali Hadi dan Wali Gembyang. Ketiga wali ini pada akhir hayatnya tewas di tangan Paku Wojo. Sunan Katong adalah seorang tokoh yang sangat mulia dan sangat disegani pada masa hidupnya. Hingga sepeninggal beliaupun masyarakat tetap menghormatinya dengan berbagai bentuk kegiatan untuk mengenang jasa-jasanya, seperti salah satunya pada acara tradisi syawalan tersebut. Kegiatan Syawalan ini merupakan satu kegiatan yang luar biasa meriah, besar dan antusias masyarakat sangat tinggi sekali.
Tempat syawalan ini sangat luas untuk ukuran di kota Kendal, dimulai dari timur sampai ke barat yaitu aloon-aloon (depan masjid Agung Kaliwungu ) hingga lapangan Brimob (depan eks gedung bioskop Kaliwungu). Sedangkan dari arah utara sampai selatan yaitu sepanjang pinggir jalan raya Soekarno-Hatta hingga lokasi makam Sunan Katong dan Kyai Guru. Semua lokasi yang ada penuh dengan berbagai macam hiburan maupun para pedagang musiman. Pengunjung begitu antusias mengisi semua lokasi yang ada, baik yang hanya jalan-jalan di keramaian tersebut maupun yang khusus menuju lokasi ziarah kubur.

Peziarah berduyun-duyun dan berdesak-desakan menuju makam Sunan Katong pada waktu Syawalan.


Pesta Laut Tanggul Malang
Kabupaten Kendal
Pesta Laut Tanggul Malang merupakan kegiatan larung sesaji masyarakat nelayan setempat sebagai simbol rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan rejeki yang telah diberikan. Kegiatannya antara lain kirab seni dan budaya dan pelarungan sesaji yang dilaksanakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijah (Besar).

Seni Untuk Tolak Bala – Srandul
Di dukuh Semanding kampung terpencil berjarak hanya ±1,5 kilometer perbatasan Kabupaten Temanggung-Kendal atau persisnya di Desa Kedungboto, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah terdapat perkumpulan kesenian tradisional Srandul.
Bagi masyarakat dukuh Semanding, tari srandul adalah tarian magis yang ditarikan malam hari untuk mengusir pagebluk (wabah penyakit atau hantu). Tari Srandul yang hampir punah itu adalah tarian untuk tolak bala yang lazim dimainkan orang desa apabila daerahnya mengalami kekeringan yang sangat dahsyat atau munculnya /pagebluk/ (wabah penyakit yang mematikan).
Tarian Srandul biasanya dimainkan delapan penari di bawah cahaya obor. Seluruh alat musik pengiringnya terbuat dari bambu.

Tarian Srandul


Pakaian Adat Kendal
Putra: Blangkon model Mataram mondol trepes, jebeh nutup telinga. Busana bagian atas menggunakan beskap Sutowijayan (bagian depan nutup ke kanan dan jatuh lurus kebawah dengan 3 saku, bagian belakang landung dan belahan disamping kiri dan kanan). Bagian bawah menggunakan nyamping/ kain pesisiran menggunakan sabuk, epek timang, memakai keris/ duwung. Meggunakan selop tertutup.
Putri: Sanggul khas Kendal, rambut disasak dan dirapikan seperti halnya membuat sanggul jawa dan bagian samping kanan dan kiri dibentuk mepet telinga (tanpa sunggar). Kemudian untuk bentuk sanggulnya menggunakan sanggul Jawa Solo ukuran kecil dengan 3 tusuk konde model lingkar.

MOTIF BATIK KENDAL
Adapun juga motif-motif batik khas yang berasal dari Kendal

Batik Tulis Witro Kendal



Batik Kendil Wesi yang menjadi ciri khas motif batik Kendal

Batik Kendal melalui wadah pemasaran dari produksi Batik Witro, mempopulerkan kembali lewat beberapa motif yang telah ada pada masa yang lalu. Batik Kendal mulai berkembang kembali setelah Bupati Kendal Dr. Widya Kandi Susanti mencanangkan untuk mulai memunculkan kembali batik yang pernah menjadi cirri kekhasan daerah Kendal. Motif yang menjadi cirri khas Kendal adalah motif batik Kendil Mukti. Motif Kendil Mukti ini mempunyai bentuk khas berupa kendil yang merupakan sebuah gambaran sebagai penunjang ekonomi daerah
Kendal. Kendal mempunyai hasil dari kekayaan laut, yang digambarkan berupa bentuk sisik ikan’ kemudi perahu,dan jangkar. Kursin\kapal, mesin penggiling padi, juga terdapat gambar yang berupa motif berasan.,tebu dengan motif daun dan kembang,juga tembakau dengan daun dan bunganya. Motif batik ini juga terdapat bentuk kendil tumpang dan tumpung kendil .yang cocok untuk motif batik lajuran.batik kendil. Lajuran batik Kendil dilengkapi dengan motif bunga 4 kendil, terdapat lajuran besar dan juga yang kecil. Motif Gulu Kendil bagus juga untuk plataran dan isen


Batik Tulis Sutra ATBM yang bermotifkan ciri khas Kendal


Batik Canting di Weleri Kendal
Sebagian daerah Kendal, seperti di Weleri kerajinan batik juga berkembang. Orang Weleri dapat juga membuat batik dengan hasil yang cukup baik dan halus. Hal ini membutuhkan pengarahan terhadap para pengrajin supaya dapat menghasilkan karya yang baik. Mereka di sediakan alat-alat untuk membatik di rumahnya sendiri oleh para juragan Batik.
Para pengrajin dapat mengerjakan batik sambil momong anak di rumah masing-masing. Mereka bisa berkarya dengan perasaan senang demi untuk membantu mencari nafkah suaminya.


Saran
Kebudayaan adalah aset bangsa yang berharga, maka dari itu kita sebagai warga Bangsa ndonesia khususnya kabupaten Kendal,marilah kita lestarikan budaya daerah kita, kita gali potensinya, dan jadikan ciri khas untuk daerah kita yaitu kabupaten kendal, Agar budaya Kendal kedepanya tidaklah punah di telan zaman.



Penutup
Kebudayaan adalah aset bangsa, oleh karena itu harus di lestarikan. Upaya pelestarian budaya sebagai aset jati diri dan identitas sebuah masyarakat di dalam suatu komunitas budaya menjadi bagian yang penting ketika mulai dirasakan semakin kuatnya arus globalisasi yang berwajah modernisasi ini. Pembangunan sektor kebudayaan selanjutnya juga akan menjadi bagian yang integral dengan sektor lain untuk mewujudkan kondisi yang kondusif di tengah masyarakat.
Di samping itu era serba digital saat ini merupakan suatu hal yang harus diterima dengan segala resiko dan dampaknya. Besarnya pengaruh asing yang masuk akan membawa pengaruh terhadap perilaku dan sikap bangsa ini baik perilaku sosial, politik, ekonomi, maupun budayanya. Oleh karena itu untuk menangkal dan menanggulangi arus negatif budaya asing yang masuk ke Indonesia dengan jalan memberikan informasi budaya kepada generasi muda khususnya dan masyarakat pada umumnya.

2 komentar:

  1. Kebudayaan harus berkembang lintas generasi, untuk melestarikan budaya kita di Nusantara, sebagai warisan luhur dari jati diri bangsa. terimakasih..

    BalasHapus
  2. Semoga batik kendal makin jaya

    BalasHapus